Salam Damai …

Salam Perjuangan …

Sebelumnya, kami dari pengurus Program Tanpa Bendera mengucapkan terima kasih dan rasa penghargaan sebesar2nya kepada para sahabat donatur yang telah membantu kami sehingga ide acara Sahur bersama keluarga Adik Asuh dan Bingkisan untuk Lebaran ini dapat kita wujudkan bersama.

Acara tersebut telah dilaksanakan, dan berikut ini adalah cerita dari acara tersebut yang saya rangkum dari tulisan yang dibuat oleh : Ucup, Isti dan Mas Res.

.

Sabtu , 27 september 2008

Sabtu siang (27 September 2008 – Pukul 15:00), Program Tanpa Bendera kedatangan ‘tamu’ yang jauh hari sudah konfirm bahwa beliau akan ikut acara Sahur bersama adik asuh Program Tanpa bendera [PTB] ini.
Beliau adalah Mas Res, yang tinggal di daerah Pondok Gede. Mas res kenal PTB dari salah satu milis yang ia terima.

Singkat cerita, saya, Oki & Chris janjian di daerah Blok M Plaza untuk menjemput Mas Res. Dan setelah bertemu maka meluncurlah kami ke daerah Bintaro.

Kami berbincang-bincang sedikit untuk saling mengenal, dan saya coba membuka pelan2 alkisah PTB dari awal berdiri. Sambil menemani Mas Res menunggu waktu berbuka Puasa.

Setelah waktu berbuka Puasa akan tiba, maka saya mengajak Mas Res pulang rumah ku untuk mencari Makan dan mandi, karena jam 19.00 nanti kita ada janji bersama volunteer2 PTB yang lain untuk briefing acara Sahur Bersama Adik Asuh.

.

Pukul 19:30

Briefing untuk acara Sahur dimulai.

Tujuan acara Sahur bersama ini awalnya adalah 3 keluarga, namun keluarga dari Dafa ternyata tidak bisa karena suatu hal.

Jadi keluarga yang akan kami datangi adalah keluarga dari Bp.OJI {Fitri & Tina] dan keluarga Bp.Gartot [Reza & Dhea].

Saya bagi koordinator Tim masing2; untuk keluarga Bp.Oji dipimpin oleh Joko dan Bp Gatot dipimpin oleh Titus. Sedangkan Volunteer2 lain yang ikut acara ini ada sekitar 15 an orang.
Dibagilah menjadi 2 tim

Tim 1 keluarga Bp.Gatot : Titus [koordinator Tim], QQ, santi, Mas Andri, Emma, Reni, Sulis, Ndari dan Ucup.
Dari keluarga Bp.Gatot sendiri terdiri dari 7 anggota keluarga yang berpuasa [termasuk adik asuh kita; Reza & Dhea]

Tim 2 keluarga Bp.Oji : Joko [koordinator Tim], Mas Res, Isti, Inggid, Puji, Benny, Teguh dan saya sendiri.
Dari keluarga Bp.Oji sendiri terdiri dari 6 anggota keluarga yang berpuasa [termasuk adik asuh kita; Fitri & Tina]

Jadwal acara adalah sebagai berikut:

Pukul 23 :00……Order makanan untuk sahur oleh Inggit & volunteer2 cewe yang lain

Pukul 01.00……Mengambil Makanan Sahur oleh QQ

Pukul 02:30……Ke dua Tim berkumpul di meeting point dan siap meluncur.

Pukul 03:00……kami sampai di tempat tujuan. Sembari menikmati santapan sahur bersama. Perbincangan diarahkan kepada adik asuh dan keluarga. Apakah mengalami kendala dalam proses belajar-mengajar (kesulitan menguasai materi pelajaran), bagimana kondisi perlengkapan belajar (sepatu, tas, seragam, peralatan tulis dll).

Berikut ini adalah cerita dari tulisan Ucup & Isti yang merangkum gambaran cerita acara Sahur bareng di kedua keluarga tersebut.

.

Minggu , 28 september 2008

Berbagi Hati dipagi hari
oleh : Ucup

Dinginnya udara yang berhembus pada dini hari 28 september 2008, tidak menyurutkan semangat kawan – kawan muda yang tergabung dalam relawan Program Tanpa Bendera untuk mengunjungi adik–adik asuh untuk sahur bersama pada bulan suci Ramadhan. Waktu menunjukan tepat pukul 02.00 WIB, kawan-kawan relawan Program Tanpa Bendera berkumpul terlebih dahulu disalah satu warung milik seorang kawan yang telah di sepakati untuk menjadi titik temu sebelum kami menuju rumah adik–adik asuh untuk berkoordinasi dan membagi kelompok kunjungan. Pada acara Program Tanpa Bendera kali ini mendapat tamu istimewa, kami kedatangan satu kawan muda yang sangat bersimpati dan mendukung gerakan ini, beliau bernama Mas Res. Dari Pondok Gede menuju Bintaro, beliau lakukan hanya untuk bersama–sama berbagi rasa dan inspirasi dengan Program Tanpa Bendera mengunjungi adik–adik asuh.

Setelah kawan relawan Program Tanpa Bendera lengkap berkumpul, kami di bagi menjadi dua kelompok kunjungan. Satu kelompok menju ke rumah Bapak Oji dan satu kelompok lagi menuju ke rumah bapak Gatot keduanya tinggal di daerah Wadasari Pondok Betung. Berbekal beberapa kantung nasi bungkus yang telah dipersiapkan sebelumnya, rombongan relawan sesuai kelompok daerah tujuan menembus keremangan subuh menuju rumah adik asuh.

Kebetulan saya mendapat jatah dikelompok yang akan sahur bersama di rumah adik asuh Reza dan Dea, keduanya anak dari bapak Gatot Sutopo. Kawan Titus menjadi koordinator dikelompok ini, kawan yang satu ini dikenal sebagai relawan yang ringan tangan, murah senyum dan selalu memberi motivasi pada kawan–kawan relawan lainnya di Program Tanpa Bendera. Tepat pukul 02.30 WIB kami tiba. Disambut dengan senyum ramah bapak Gatot Sutopo dan istri, kami di persilahkan masuk kedalam kediamannya. Wah, ternyata beliau telah menyiapkan tikar di ruang depan dan ruang bengkelnya. “ Tak usah repot repot pak “ sapa salah satu teman kami. “Repot gimana, cuma tikar dan teh manis saja kok repot. Mari silahkan masuk, maaf tempatnya cuma segini.. dicukup-cukupin dah “ jawab bapak Gatot sambil mempersilahkan kami masuk. Tak lama dua senyum anak kecil muncul dari balik ruangan yang berbeda, ya mereka itu Reza dan Dea. Kemudian mereka bersalaman dengan kami satu persatu. Oh ya, jumlah kami dikelompok ini 9 orang. Setelah duduk di tikar yang telah disediakan, ibu Gatot menyuguhkan kami teh manis hangat yang bisa membantu kami untuk menghilangkan udara dingin yang telah merasuk di sela-sela tulang kami selama perjalan tadi.

Kawan Titus sebagai koordinator membuka pembicaraan dengan mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan kawan–kawan relawan kepada bapak Gatot. Bahwa kedatangan kali ini untuk sahur bersama dengan adik Reza dan Dea beserta keluarga selain itu juga untuk saling menyapa dan bersilahturahmi pada bulan Ramadhan kali ini. Mas Titus juga menanyakan tentang perkembangan sekolah pada asik Reza dan Dea. “Bagaimana sekolahnya, apa ada pelajaran yang sulit atau nilainya kurang baik ?” dengan malu-malu Dea menjawab” tidak ada, semuanya bisa”. Jawaban Dea disambut gelak tawa kami semua yang ada disitu termasuk pak Gatot dan istri. “Kalau Reza, gimana, ada pelajaran yang sulit tidak?” tanya Santi salah satu kawan relawan. Reza mengungkapkan bahwa pelajaran yang sulit hampir tidak ada, karena selama ini Reza selalu belajar dan mengerjakan tugas pekerjaan rumah dengan kawan sekelas yang tinggal tidak jauh dari rumahnnya. Tapi ada satu mata pelajaran yang membuat sekeluarga kelimpungan jika ada tugas pekerjaan rumah yang diberikan dari guru, mata pelajaran itu adalah Bahasa Sunda. Bapak Gatot juga bingung untuk membantu Reza dalam mengerjakan tugas Bahasa Sunda, maklumlah Pak Gatot berasal dari Jogjakarta. Banyak tanggapan muncul dari kawan-kawan relawan menanggapi masalah ini, Bahasa Sunda sebagai muatan Lokal dalam kurikulum pendidikan dasar menjadi hal penting disekolah yang berada diwilayah Banten dan Jawa Barat. Sebagai muatan Lokal seharusnya bisa mengangkat kearifan lokal yang tidak membebani siswa peserta didik, yang tidak hanya menekankan pada ketrampilan bahasa saja apalagi terkesan dipaksakan oleh kurikulum. Pembahasan mengenai Bahasa Sunda menjadi topik yang menarik dan sedikit membuat bingung Reza dan Dea Karena mereka hanya banyak terdiam. Tak terasa waktu menjukkan pukul 03.15 Bapak Gatot mengingatkatkan kami untuk segera mulai makan sahur karena sebentar lagi waktu Imsak akan tiba.

sahur6

Bp.Gatot memimpin DOA bersama

Kawan Titus meminta kesediaan bapak Gatot untuk memimpin doa sebelum makan sahur, “kali ini makan sahur kita dengan nasi padang, plus buah semangka penak tenan” canda pak Gatot.. Canda tawa dan guyonan menjadi selingan kami saat makan sahur, keceriaan dan rasa kekeluargaan menyelimuti kami semua yang hadir. Disela makan sahur, kawan QQ bertanya kepada Reza dan Dea, Siapa dianta meraka yang telah bolong puasanya. Tidak ada jawaban dari kedua adik asuh itu, hanya senyuman manis. Ibu Gatot langsung menyela “Kalo Dea puasanya cuma setengah hari aja, tapi kalo reza kadang-kadang pol satu hari tapi kadang-kadang juga setengah hari” Dea saat ini baru dikelas 2 sekolah dasar yang mempunyai cita-cita menjadi dokter sedangkan Reza berada dikelas 5 sekolah dasar dan bercita-cita kelak menjadi tentara yang bisa membela bangsa. Kawan Titus berpesan agar jangan sering bolong-bolong puasa, agar rajin sholat dan mengaji kepada Reza dan Dea , selain itu dia mengungkapkan pada kami yang hadir bahwa pendidikan spiritual itu berawal dari keluarga, karena di sekolah itu tidaklah cukup. Karena dengan demikian adik–adik asuh ini diharapkan nantinya tidak hanya pintar dalam ilmu pengetahuan tetapi juga mempunyai kekuatan iman yang mantap sehingga bisa menjadi orang berhasil yang berguna bagi keluarga, masyarakat, agama dan Negara.

sahur1

Reza-Dhea & Sang Bunda

Tak terasa waktu Imsak telah tiba. Tetapi hangatnya rasa kekeluargaan tetap menyelimuti kami sehingga kami tak ingin pulang. Sebelum berpamitan, Kak Kiki mengutarakan kepada Dea dan Reza bahwa Program Tanpa Bendera akan mengadakan Les atau pelajaran tambahan untuk adik-adik asuh agar dapat membantu menambah pengetahuan mata pelajaran yang diajarkan disekolah sehingga mendapatkan nilai yang baik. Usulan itu disambut gembira oleh Bapak Gatot dan Ibu Gatot, karena selama ini hal itu yang memang dibutuhkan oleh Reza dan Dea, kesibukan mereka untuk mencukupi nafkah keluarga membuat waktu untuk membantu Reza dan Dea belajar menjadi kurang, karena waktu yang tersedia hanya malam hari. Sayup – Sayup terdengar suara Adzan Subuh terdengar dari pengeras di masjid. Waktu untuk sholat subuh telah tiba. Pukul 4.45 kami berpamitan kepada bapak Gatot dan keluarga. Kami pun bersalaman mengeratkan kembali rasa kekeluargaan diantara kami. Kelompok kami menuju kembali ke warung yang menjadi titik temu kelompok sebelum berpisah untuk saling bercerita saat-saat kami berbagi hati di sahur kali ini bersama adik-adik asuh dan keluarga.

Banyak makna yang tersirat, ketika kami bertemu dengan adik-adik asuh dan keluarga. Rasa saling memberi dan saling menerima satu sama lain, dihiasi keceriaan canda tawa, rasa kekeluargaan dan saling memberi inspirasi yang berguna bagi kehidupan para relawan muda Program Tanpa Bendera terlebih terlebih bagi adik-adik asuh dan keluarga. Pada kesempatan saat ini juga kami para relawan Program Tanpa Bendera mengucapakan “Taqobbalallahu MinnaWaminkum, Minal ‘Aidin Wal-faizin. Semoga kita kembali menuju pada fitrah yang suci. Selamat Idul Fitri 1429 H“ kepada para adik asuh dan keluarga.

.

Sahur Bersama Keluarga Bang Oji
oleh : Isti

Rencana Sahur bersama adik-adik asuh yang sedang menjalankan ibadah puasa ini , sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari oleh rekan2 PTB (Program Tanpa Bendera).Perencanaan awal Sahur on the Road yang dijalankan serentak ke 3 keluarga. Seperti diketahui bahwa tercatat ada 5 adik asuh kita yang menganut agama muslim antara lain Dafa, Dhea, Reza, Fitri dan Tina.
Tapi setelah 1 minggu sebelum pelaksanaan ada beberapa teman-teman yang sudah mensurvey ke rumah-rumah adik-adik asuh ini.

Kebetulan saya mendapat jatah di rumah kerluarga Bang Oji yaitu tempat Fitri & Tina.Kira-kira pukul 02.30 kita berangkat kesana, jam 03.00 kita sudah sampai di rumah Bang Oji.Disana karena seperti hari-hari sebelumnya keluarga ini sahur pada jam 03.30, maka ketika kami tiba disana mereka baru bangun tidur.Yah sembari menunggu mereka bangun, kita sudah disediakan tempat untuk duduk seadanya di teras mereka. Sambil mengisi waktu ini juga, kita mencoba berbincang-bincang dengan orang tua Fitri & Tina yang kebetulan hanya diwakilkan oleh ayah mereka, Bang Oji. (Maaf kalau jadi menyebutnya Bang Oji bukan Bapak karena sudah terbiasa demikian)
Ibunya sedang menemani adiknya yang paling kecil didalam rumah.

100_2841

Bang Oji bersama keempat anaknya

100_2848

Sahur Bersama di rumah Bang Oji

Sambil makan kita juga mencoba mencari tahu tentang perkembangan adik-adik selama ini. Bagaimana cara belajar mereka kesehariannya. Hanya Fitri dan kakaknya yang tertua yang menemani kita makan diluar sedangkan Tina memang agak pemalu jadi dia tidak keluar rumah. Memang keldua anak ini [Fitri & Tina] baru saja kami rekrut menjadi adik asuh PTB. Jadi wajar saja kalau adik-adik ini belum terlalu dekat dengan kita.

Dari obrolan yang kita coba gali, sebenarnya untuk Fitri dan adiknya Tina bisa lebih dekat dengan kita hanya saja ini masalah kebiasaan. Fitri punya bakat menggambar yang nantinya akan kita coba bantu dan support dia untuk lebih mendalami bakatnya apalagi secara keturunan dulunya om-nya (adik Bang Oji) ini sangat pintar melukis.

Semoga harapan kita untuk mencoba ikut mengembangkan bakat adik-adik kita supaya lebih berdaya guna bisa terlaksana.
…mohon Doa nya yah teman-teman dan dukungannya.

Setelah adzan Mas Res bersama Fitri, Tina dan kakak tertuanya sholat di musholla terdekat.
Kita coba menunggu saja sampai mereka selesai sholat, setelah itu kurang lebih pukul 04.45 kita pamit pulang .

100_2836

Fitri sedang bercerita kepada kami

Demikian teman-teman apa yang bisa saya ceritakan. Selain untuk bersilahturahmi lebih dekat dengan keluarga adik-adik asuh kita, kita juga mencoba untuk bisa mengenal lebih dekat bagaimana kebiasaan adik-adik kita selama dirumah. Selanjutnya mohon dukungan & Doa teman-teman semoga acara yang bertujuan baik seperti ini bisa terwujud dikemudian hari.

Terima kasih

.

.

.

.

Masih dalam kegelapan suasana Subuh itu, kami berpencar untuk kembali pulang kerumah masing2 karena satu tugas telah selesai kami laksanakan.. Saya, Beny & Titus mengantar Mas Res yang akan pulang ke daerah Pondok Gede. Dalam perjalanan kami berbincang2 lagi… Dan kami berpisah di daerah Ben-Hil.

”] yang datang jauh dari daerah bekasi tuk ikut acara ini.. tnx mas atas masukan2 nya 🙂100_28431

.

Namun tugas belumlah selesai ..

Sore hari nya sekitar pukul 16.00, Puji sudah ada janji dengan salah satu Donatur yang akan membelikan bingkisan untuk semua adik2 asuh PTB. Jati diri Donatur tersebut enggan untuk ditampilkan namanya.. sungguh mulia dan membuat saya terkesima…

Donatur tersebut sengaja membelikan bingkisan berupa Sepatu & Tas untuk adik2 asuh PTB; yang mana bingkisan tersebut nantinya sekalian diberikan ketika PTB nanti mengantar ‘Bingkisan Lebaran’ untuk keluarga Bp.Oji & Bp.Gatot.
Memang dalam perjalanan PTB sejauh ini banyak sekali Donatur2 “Misterius” yang PTB sama sekali tidak mengenal mereka… namun tujuan mereka sama.. Yaitu untuk Pendidikan Adik2 Asuh PTB.. untuk merubah Pendidikan di INDONESIA.. walaupun masih kecil dan sederhana namun NYATA !!!!
Salut setinggi2nya untuk CINTA & KEPEDULIAN kalian selama ini guys …

Setelah selesai Puji berbelanja dengan sang Donatur “Misterius” itu, Oki & Reni menjemput untuk sekaligus menuju Carefour Bintaro guna berbelanja bingkisan Lebaran yang akan diserahkan untuk keluarga Bp.Oji & Bp.Gatot.

.

Senin , 29 september 2008

Temen2 volunteer PTB telah sepakat via SMS berantai untuk berkumpul di rumah saya pukul 19.00 guna mengantarkan Bingkisan Lebaran bagi keluarga Bp.Gatot & Bp.Oji, serta memberikan bingkisan yang telah dibelikan oleh sang Donatur “Misterius” berupa Sepatu atau Tas Sekolah.

Saya pribadi melihat betapa bahagianya keluarga Bp.Oji & Bp.Gatot menerima ‘Bingkisan Lebaran’ dari kita yang sama sekali mereka tidak duga.

Mereka titip pesan untuk kalian guys.. terima kasih dan ucapan syukur atas pemberian tersebut.

sahur10

kawan Titus & Erga tampak memberikan 'Bingkisan Lebaran utk kel. Bp.Gatot

sahur5

beberapa kawan2 PTB berfoto bersama Bp.Oji Family ketika memberikan 'Bingkisan Lebaran'

Selain itu Adik2 Asuh juga merasa senang atas hadiah berupa Sepatu atau Tas Sekolah nya. Untuk Reza ternyata ukuran sepatunya kebesaran he7x.. dan terpaksa Puji harus menukarkan kembali untuk ukuran yang lebih kecil. Reza kebetulan ketika kami datangi sedang sakit, panasnya tinggi dan buang2 air. Kami menyarankan jika 3 hari ke depan tidak ada perubahan agar membawa kembali ke dokter yang lebih bagus. Namun dari kabar yang kami dapat Reza telah sembuh 2 hari kemudian, kabar itu membuat hati kami tenang.. coz saat kami kunjungi Reza terlihat sangat kurus dan pucat..

sahur2

Tina sedang mencoba sepatu sekolah barunya

sahur4

Christina

sahur9

ditemani Sang Bunda, Miko & Dafa bersama Tas Sekolah barunya

sahur11

Dhea dan sepatu sekolah barunya, bersama kak Chris

Dan seperti biasanya dalam setiap kesempatan PTB mengadakan acara dengan cara ‘saweran’ selalu saja dana yang dikumpulkan sisa. Dan rencana dana sisa tersebut akan kami masukan ke dalam KAS saweran pendidikan untuk Adik2 Asuh PTB.

Saya mewakili teman2 pengurus di Program Tanpa Bendera mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi2nya atas Cinta dan Kepedulian kalian sehingga terlaksananya ide spontan kami tersebut.

Semoga komitmen kita bersama ini bisa kita teruskan dan semoga juga ‘MIMPI’ indah dan sederhana kita bersama ini bisa terwujudkan ke depannya…

Amin!!!

untuk sekedar informasi; bahwa dalam waktu dekat nanti Program tanpa Bendera akan mengadakan acara ‘Bedah Film – LASKAR PELANGI’ untuk Adik2 Asuh PTB. Waktu dan tempatnya segera menyusul, dan bagi yang berminat berpartisipasi dalam acara tersebut silahkan menghubungi kami.

Salam hangat selalu .. dari saya (Ochar)

**Maaf bila ada salah dalam tulisan saya.. dan semoga saja tulisan saya di atas mudah dicerna, karena sudah lama saya ndak menulis dan baru belakangan ini mencoba lagi .. semoga deh ya guys …

.

List Donasi :

Bingkisan untuk Adik2 Asuh Total biaya Rp 1.279.300 ditanggung oleh salah satu sahabat yang enggan di sebutkan namanya, dengan perincian:
– sepatu u/ reza……………….Rp 129.900
– sepatu u/ dhea………………Rp 89.900
– sepatu u/ cristina…………..Rp 119.800
– tas u/ lia………………………Rp 95.000
– tas u/ peter………………….Rp 105.000
– tas u/ miko………………….Rp 105.000
– tas u/ dafa…………………..Rp 105.000
– sepatu u/ tina………………Rp 95.000
– sepatu u/ fitri………………Rp 95.000
– tas u/ georgy……………….Rp 169.900
– sepatu u/ magda…………..Rp 64.900
– sepatu u/ laura………………Rp 104.900

.

List Donasi acara Sahur dan Bingkisan Lebaran :

Nama……….……….……….Jumlah Donasi

Respati ( Mas Res )…………………20.000
Rm.B………………………………….300.000
Soekatman……………………………50.000
NN………………………………………50.000
Yudha…………………………………..50.000
KRPM………………………………….100.000
Budi……………………………………100.000
Ricky……………………………………75.000
Ibu Asih……………………………..200.000
Tjiu Tjun Min…………………………50.000
NN……………………………………..100.000
NN……………………………………….50.000
Keuntungan Kaos PTB 24 pcs….240.000
Mr.A……………………………………100.000
Brigita…………………………………..50.000
Okta……………………………………100.000
NN……………………………………….20.000
…………………………………………
——- +
Total Saweran :.……….Rp 1.655.000

List Pengeluaran :

– Belanja untuk bingkisan lebaran [2 keluarga]……………….……….Rp 439.990

– Nasi Padang 14 bungkus untuk Sahur……………….………………Rp 175.000

– 2 Pcs buah Semangka untuk Sahur……………………………………Rp 35.000

.

Sisa Dana : Rp 1.005.010

Sisa dana tersebut nantinya akan dimasukkan ke dalam KAS PTB untuk biaya adik2 sekolah.

Iklan